Mereka; tokoh yang berperan di dunia sastra Indonesia. Dan Indonesia diharapkan punya seorang bahkan banyak sosok yang bisa meneruskan mereka. Lantang dan berani. Dan semoga itu kami. Dan sekali lagi, ayo kita berjuang, karena kita adalah amunisi bangsa.

Satu Mata Api

Satu mata api pada gelas sunyi
menguap rindu menjadikanya
berdebu


16 September 2014
Kontributor/Penyair:
Dipublikasi Pada: Selasa, September 16, 2014

Aku dan Kamu

Aku dan kamu
pernah mendulang mimpi
mengukir hati,

tiga tahun sudah
kita sudah melupakan sunyi
membalut cincin kita dengan.....


16 September 2014
Kontributor/Penyair:
Dipublikasi Pada: Selasa, September 16, 2014

Purnama Gulita, Cahaya pun Sirna

Sempat diolok-olok sedang merenda awan serta mega,
Pada akhirnya sang warganegara yang keturunan Cina
Dengan lenggang gemulai, lenggangnya ibukota Jakarta
Melangkah menjadi DKI-2 bersama sobatnya dari Sala.
Pria tampan yang menyandang nama Cahaya Purnama
Walau bagi teman, panggilan Ahok lebih punya nuansa,
Tanpa canggung dan risih langsung saja benahi ibukota.
Bersama dengan sang DKI-1 yang memang seia-sekata
Waduk yang dulu penuh sampah dan gubuk kumuh nista
Diubahnya menjadi kawasan bersih, manis dan ria ceria.
Lalu bagaimana dengan korban penertiban sang cahaya?
Bukankah biasanya ribut, melawan, timbulkan bencana?
Inilah hebatnya pasangan nahkoda baru ibukota negara.
Semua yang rumah ilegalnya dirubuhkan tidak disia-sia.
Mereka masuk ke rumah susun milik pemda DKI Jakarta
Yang sejak semula dibangun guna topang rakyat jelata.
Kasur ada, lemari es tersedia, dapur tinggal dipakai saja,
Sedangkan sewa, selama setengah tahun bebas biaya.
Tentu ada yang kecewa tapi hampir semua bersukacita
Dapat tempati hunian layak dan tidak melanggar perda.
Dan ini rencana ternyata punya sisi manfaat serta guna
Tak hanya menolong mereka yang benar tidak berpunya
Tapi juga sukses membongkar kedok para pejabat pemda
Yang entah bagaimana, selama bertahun-tahun lamanya
Menguasai aset pemda yang jadi jatah rakyat menderita.
Kamar-kamar dikuasai begitu saja, dikantongi biaya sewa.
Yang sangat perlu terus menderita di luar sana, sementara
Pejabat bengkok culas dengan nurani buta, asyik berdansa.
Kalau si Cina dan si kerempeng dari Sala tidak berkuasa,
Entah masih berapa lama praktek jahat nir tenggang rasa
Terus berlangsung di ibukota bahkan tepat di depan mata
Para penguasa yang konon sudah disumpah bela negara,
Ternyata malah menjadi penjahatnya, ya benar-benar gila.
Jumlahnya? Benar banyak pejabat negara yang buta rasa,
Buta nurani jiwa, buta sumpah janji setia, buta segalanya.
Tetapi untung saja, tentu atas kehendak sang mahakuasa,
Walau terus dihambat, ditentang, bahkan difitnah segala,
Seorang Cina dipilih rakyat jelata untuk membasmi kecoa.
Ha … ha … ha … ini yang sering disabda para bijaksana,
Jika Langit telah punya rencana, para durjana tak berdaya.
Banyak rumah susun sudah kembali ke pangkuan pemda
Dan rakyat menderita bisa tersenyum ria di bawah atapnya.

Jika disimak lebih jauh sepak terjang si Cina duta pembela,
Yang bersih dari noda kotor perilaku korup pejabat negara,
Kadang terpaksa kepala berkali menggeleng tidak percaya.
Kawasan Tanah Abang yang sejak berlaksa hari-hari krida
Di bawah pimpinan banyak gubernur-gubernur sebelumnya
Selalu kusut tidak jelas juntrungan PKL serta lalulintasnya,
Eh, di tangan si Ahok yang Cina sontak berubah seketika.
PKL ada di kiosnya, lalu lintas lancar kurangi polusi udara.
Lho apa iya, perlu seorang Ahok yang Cina guna ini semua?
Mungkin saja tapi yang jelas itu karena dia lurus nurani jiwa.
Tak ada niatan mengeruk uang negara, semua bersahaja.
Tegakkan perda, rangkul dan fasilitasi semua korbannya,
Maka kawasan yang rasanya hampir mustahil untuk ditata
Akhirnya kini menjadi tempat yang nyaman buat berbelanja.
Wakil ketua DPRD yang konon ‘godfather’ preman di sana
Dihadapi gagah berani dan hasilnya dia tak berkutik jadinya.

Juga pernah si Cina yang satu ini membela lurah nan jelita
Yang tak hanya didemo warga, juga dibenci pejabat negara.
Dengan gagah berani semua dihadapi; Susan si melati jelita
Engkau tetap lurah saya, terus saja bekerja, itulah titahnya,
Warga dan bahkan menteri itu urusan saya … ini luar biasa.
Dan faktanya sekarang si lurah diterima oleh semua warga,
Sementara si menteri, entah sudah sadar entah bagaimana,
Yang jelas semakin jarang terdengar merecoki si DKI dua.
Itu kasus menteri yang pertama, sedang kasus yang kedua
Dengan menteri yang jelas tidak hafal lagu Indonesia Raya
Tetapi lagak-lagunya bak seorang guru nyanyi hafal semua.
Dianggap hambat proyek MRT di Lebak Bulus milik pemda
Menteri yang tidak hafal lagu Indonesia Raya ditantangnya.
Hasil akhirnya? Proyek jalan lagi … Ahok si Cina luar biasa.
Sementara pejabat bawahannya, terus dikoreksi kinerjanya.
Yang bandel dan tak becus segera dikandangkan di pemda.
Yang korup dan suka berdusta, dimaki dan ditindak segera.
Pendek kata, kerja keras serta lurus bersahaja tanpa dusta
Adalah motto semboyan si Cina untuk semua bawahannya.
Dan hasilnya jempol pun diacungkan tinggi-tinggi ke udara.
Maju terus Ahok, itu kata mereka yang persimpati padanya.
Gebuk serta hajar pejabat bengkok yang curi uang negara.

Yang paling anyar ketika si Cina menulis surat ke Gerindra.
Isinya sederhana, karena ini partai tidak lagi jalan di relnya,
Dia putuskan untuk berhenti jadi anggota partai; untuk apa,
Tanyanya penuh retorika, jika balik DPRD yang berkuasa,
Guna tentukan siapa yang jadi gubernur, bupati, walikota?
Tanpa rakyat bersatupadu mendukungnya bagaimana bisa
Dia yang Cina dapat membenahi DKI Jakarta yang ibukota?
Dulu dia bersedia maju walau partai pengusung hanya dua,
Jumlah anggota dewan dari partainya hanya segelintir saja,
Karena yakin jutaan warga Jakarta bebas untuk memilih dia.
Dan nyatanya dia benar, partai itu bukan empunya negara.
Negara ini dimiliki seluruh rakyat, entah di kota atau di desa,
Entah miskin atau kaya, entah cerdas atau bodoh luar biasa.
Negara milik mereka, jadi yang miskin dibantu biar sejahtera,
Yang bodoh didorong agar mau belajar, itulah tugas negara,
Bukan sebaliknya, ditentukan hanya oleh segelintir manusia,
Yang tidak jarang, jika statistik acuannya, ternyata bisanya
Merompak dan merampok uang negara, lalu asyik berdusta.
Tak diusung partai tak apa, asal rakyat sederhana percaya,
Dia pasti akan mampu tuntaskan semua sisa pekerjaannya
Ini jika negara tak perlukan dia dalam kabinet kerja rekannya.
Purnama telah gulita, cahaya pun sirna, tapi itu bagi Gerindra.
Bagi negara? Akan kembali purnama, akan terus bercahaya.



Sidoarjo, 12 September 2014

Kontributor/Penyair:
Dipublikasi Pada: Jumat, September 12, 2014

Kebesaran Sejati

Engkau tak'kan dapat mlihat udara,kcuali udara itu sendiri yang akan menyentuhmu
Engkau tak'kan menyentuh ksabaran kcuali ksabaran itu sendiri yang akan mengantarkanmu pada satu keinginanmu
dan engkau tak'kan pernah mlihat satu KEBESARAN SEJATI dengan ilmu kebusukan tenang apa-apa yang engkau gambarkan dengan imajinasimu
kcuali KEBESARAN itu sendiri yang akan menyentuhmu dan mengelus-elusmu
lepaskan nalar mantapkan hati
seekor kelelawar tak'kan mampu menatap matahari.

13 Agustus 2014
Kontributor/Penyair:
Dipublikasi Pada: Kamis, September 11, 2014

Seperti apa muka orang rakus?

Seperti apa muka orang rakus?
Menanti buah kesabaran apakah bisa dikatakan sebagai orang sabar?.
Dan apakah bedanya dengan kerakusan..?
"begitukah.

Sarwoko Ardie
08 September 2014
Kontributor/Penyair:
Dipublikasi Pada: Kamis, September 11, 2014

Akhirnya Istana ‘Tidak’ Berani Juga

Lintasan pelangi biru itu akhirnya tiba juga di ujungnya
Dan catatan berapi-api penuh nyala harapan membara
Yang pernah diunggah ke seantero telatah dunia maya
Akhirnya perlu dan harus dikoreksi … karena nyatanya
Harus KPK yang turun tangan membekuk sang putera
Yang tak hanya satu kali disebut di sidang satu perkara
Tentang Hambalang … tentang skandal dunia olahraga.
Masih diingat dengan jelas dalam pusaran bias kencana
Kala kali pertama sang putra disebut mantan bendahara
Usulan dan harapan kala senja indah berbunga-bunga
Ditulis dengan ria sukacita, percaya bahwa sang Bima
Yang dalam cerita keluarga Bharata dikenal jujur setia,
Pasti berani jika cuma memenjarakan putra yang alpa,
Lalu berikutnya bersama-sama mahaksatria nusantara
Membabat habis semua durjana pencuri uang negara.
Tetapi entah mengapa, apakah harapan pelangi senja
Terlalu lirih suaranya ataukah terhalang lintasan rimba,
Yang jelas sampai ujung lintasan rona wibawa kuasa,
Perlahan memudar lalu berpindah ke tangan berikutnya
Maling uang negara tidak juga digebuk pantat otaknya.
Memang banyak yang terpaksa tidur di lantai penjara,
Tetapi yang belum ke sana masih berlaksa jumlahnya.
Duh Bima, duh Werkudara, mengapa sih kok terus saja
Kalau bukannya lamban serta ragu mengambil prakarsa,
Akhinya engkau ini ternyata memang tidak berani juga.
Yah, bukankah nanti akan termangu dan menyesal jiwa
Manakala kuasa sudah berada jauh di atas awan mega
Lalu kesadaran untuk berbuat lebih banyak bagi negara
Menyeruak masuk dan menagih janji pada hati dan jiwa?
Bukankah kau hanya bisa terdiam tidak berdaya, Bima?
Tanpa kuasa sebagai seorang presiden kepala negara,
Prakarsa mulia ini pasti semakin sulit dijadikan realita.
Kala kuasa sedang dalam haribaan saja, tak ada apa,
Apalagi setelah pensiun hidup mewah tapi tanpa kuasa,
Bukankah ibarat singa yang taringnya tanggal semua?
Jangankan untuk mengoyak mangsa, makan tahu saja
Engkau perlu usaha nan keras dan bahkan kerja ekstra.
Dan sadarkah kau apa yang lebih menjengkelkan sukma?
Aku harus kembali menggubah catatan kecil sederhana
Karena kata ‘tidak’ harus disisipkan tepat di jantung jiwa
Akhirnya Istana ‘Tidak’ Berani Juga, ini lho judul barunya.
Ya … memang harus seperti itu karena fakta serta realita
Sampai pudarnya rona pelangi biru di langit jingga senja
Engkau tidak pernah berani memproses sang putra alpa.
Lho, kan belum tentu nyanyian sang mantan bendahara
Benar adanya, bagaimana kalau itu hanya dusta belaka?
He … he … he … dengar baik-baik wahai ksatria mulia.
Di samping semua nyanyian telah terbukti benar adanya
Juga semakin banyak saksi lain yang serta dan ikut bicara,
Jadi sebenarnya tak perlu ada keraguan dalam ini perkara,
Apalagi bukankah kau sangat paham dan tahu wahai Bima
Bahwa rasanya benar-benar tidak masuk akal jikalau ketua,
Lalu bendahara, sibuk berpesta … eh sekjen sibuk bertapa,
Serta berpantang dan berpuasa tidak mau menerima dana
Yang konon memang digalang guna lancarkan rekayasa?
Ayo Bima … ayo ksatria, janganlah naïf apalagi berdusta.
Tetapi sekarang semuanya sudah terlanjur kedaluwarsa.
Waktumu sudah selesai, tiba giliran ksatria dari Sala sana,
Yang gemar gunakan sapu baru terbuat dari kawat baja.
Pelan tapi pasti sapu baja akan menyapu semua durjana,
Termasuk si putra alpa yang dengan enaknya menerima
Aliran dana yang sengaja dihimpun guna menimbun dosa.
Akhirnya Istana ‘Tidak’ Berani Juga, terukir di pintu dewa.
Bah … memang hanya saku tambahan ukiran sisipannya
Tetapi maknanya terjungkir balik laksana badai bencana.
Sayang sekali si empu pujangga harus tega mengukirnya
Walau dalam sukma tetap saja berdenyut harapan mulia,
Bahwa dewa pengelana yang melintas di bawah pilarnya
Dengan suka cita memetik sisipan kata agar bisa segera
Harapan banyak rakyat jelata kembali seperti sediakala,
Dan … seperti yang diduga, itulah langkah yang pertama.
He … he … he … Akhirnya Istana Memang Berani Juga.
‘Tidak’ tanggal, ‘Memang’ diukir sebagai penggantinya.
Dewa pengelana yang satu ini memang tidak kekar gaya,
Tapi seperti yang telah berulang kali dicontohkan oleh dia
Ukiran kata ‘tidak’ segera saja dihapusnya karena bagi dia
Sama sekali tak menjadi beban menghajar pantat pendusta.
He … he … he … ayo mana pantat para durjana, candanya,
Akan kugebuk mereka, akan kugiring ke balik jeruji penjara,
Apalagi kalau temanku yang dari Gerinda eh benar adanya
Tak lagi cocok dengan partai yang konon penuh rekayasa,
Pasti dia akan kuangkat menjadi menteri andalan negara
Yang tugas utamanya menggunakan sapu dari kawat baja
Menggebuk semua pantat serta otak para maling pendusta.
Sekarang tak perlu jauh-jauh belajar sampai ke Cina segala
Jika hanya mau memberantas para maling tikus dan kecoa.
Nih, ada satu asli Cina yang sudah lama jadi warganegara.
Semua orang bisa langsung belajar pada si suhu ternama
Yang tekadnya membuat banyak durjana gemetar terpana
Karena kesukaan hobinya setelah menjadi pejabat negara
Menggebuk pantat dan menghajar otak bengkok pendusta.
Tepat sehari setelah dia diangkat menjadi menteri negara,
Mulut dan tangannya pasti gatal jika tidak segera bekerja.
Hajar sini hajar sana dan penggarong maling uang negara,
Kalau bukannya terbirit-birit pastilah gemetar tak berdaya.
He … he … he … Bima lama yang agak besar badannya
Diganti si langsing teman si Cina tampan laksana Nakula,
Negara pun mempunyai harapan akan makmur sejahtera,
Karena para tikus kecoa penggarong dana rakyat jelata
Dihajar amblas sampai tertinggal hanya kentutnya saja.
Ha … ha … ha … ini baru penghuni istana milik negara,
Selamat bekerja untuk kalian semua … sehat sejahtera.

Sidoarjo, 11 Februari 2014
Diposting di group : 11 September 2014
Kontributor/Penyair:
Dipublikasi Pada: Kamis, September 11, 2014