Akhirnya Istana ‘Tidak’ Berani Juga
Lintasan pelangi biru itu akhirnya tiba juga di ujungnya
Dan catatan berapi-api penuh nyala harapan membara
Yang pernah diunggah ke seantero telatah dunia maya
Akhirnya perlu dan harus dikoreksi … karena nyatanya
Harus KPK yang turun tangan membekuk sang putera
Yang tak hanya satu kali disebut di sidang satu perkara
Tentang Hambalang … tentang skandal dunia olahraga.
Masih diingat dengan jelas dalam pusaran bias kencana
Kala kali pertama sang putra disebut mantan bendahara
Usulan dan harapan kala senja indah berbunga-bunga
Ditulis dengan ria sukacita, percaya bahwa sang Bima
Yang dalam cerita keluarga Bharata dikenal jujur setia,
Pasti berani jika cuma memenjarakan putra yang alpa,
Lalu berikutnya bersama-sama mahaksatria nusantara
Membabat habis semua durjana pencuri uang negara.
Tetapi entah mengapa, apakah harapan pelangi senja
Terlalu lirih suaranya ataukah terhalang lintasan rimba,
Yang jelas sampai ujung lintasan rona wibawa kuasa,
Perlahan memudar lalu berpindah ke tangan berikutnya
Maling uang negara tidak juga digebuk pantat otaknya.
Memang banyak yang terpaksa tidur di lantai penjara,
Tetapi yang belum ke sana masih berlaksa jumlahnya.
Duh Bima, duh Werkudara, mengapa sih kok terus saja
Kalau bukannya lamban serta ragu mengambil prakarsa,
Akhinya engkau ini ternyata memang tidak berani juga.
Yah, bukankah nanti akan termangu dan menyesal jiwa
Manakala kuasa sudah berada jauh di atas awan mega
Lalu kesadaran untuk berbuat lebih banyak bagi negara
Menyeruak masuk dan menagih janji pada hati dan jiwa?
Bukankah kau hanya bisa terdiam tidak berdaya, Bima?
Tanpa kuasa sebagai seorang presiden kepala negara,
Prakarsa mulia ini pasti semakin sulit dijadikan realita.
Kala kuasa sedang dalam haribaan saja, tak ada apa,
Apalagi setelah pensiun hidup mewah tapi tanpa kuasa,
Bukankah ibarat singa yang taringnya tanggal semua?
Jangankan untuk mengoyak mangsa, makan tahu saja
Engkau perlu usaha nan keras dan bahkan kerja ekstra.
Dan sadarkah kau apa yang lebih menjengkelkan sukma?
Aku harus kembali menggubah catatan kecil sederhana
Karena kata ‘tidak’ harus disisipkan tepat di jantung jiwa
Akhirnya Istana ‘Tidak’ Berani Juga, ini lho judul barunya.
Ya … memang harus seperti itu karena fakta serta realita
Sampai pudarnya rona pelangi biru di langit jingga senja
Engkau tidak pernah berani memproses sang putra alpa.
Lho, kan belum tentu nyanyian sang mantan bendahara
Benar adanya, bagaimana kalau itu hanya dusta belaka?
He … he … he … dengar baik-baik wahai ksatria mulia.
Di samping semua nyanyian telah terbukti benar adanya
Juga semakin banyak saksi lain yang serta dan ikut bicara,
Jadi sebenarnya tak perlu ada keraguan dalam ini perkara,
Apalagi bukankah kau sangat paham dan tahu wahai Bima
Bahwa rasanya benar-benar tidak masuk akal jikalau ketua,
Lalu bendahara, sibuk berpesta … eh sekjen sibuk bertapa,
Serta berpantang dan berpuasa tidak mau menerima dana
Yang konon memang digalang guna lancarkan rekayasa?
Ayo Bima … ayo ksatria, janganlah naïf apalagi berdusta.
Tetapi sekarang semuanya sudah terlanjur kedaluwarsa.
Waktumu sudah selesai, tiba giliran ksatria dari Sala sana,
Yang gemar gunakan sapu baru terbuat dari kawat baja.
Pelan tapi pasti sapu baja akan menyapu semua durjana,
Termasuk si putra alpa yang dengan enaknya menerima
Aliran dana yang sengaja dihimpun guna menimbun dosa.
Akhirnya Istana ‘Tidak’ Berani Juga, terukir di pintu dewa.
Bah … memang hanya saku tambahan ukiran sisipannya
Tetapi maknanya terjungkir balik laksana badai bencana.
Sayang sekali si empu pujangga harus tega mengukirnya
Walau dalam sukma tetap saja berdenyut harapan mulia,
Bahwa dewa pengelana yang melintas di bawah pilarnya
Dengan suka cita memetik sisipan kata agar bisa segera
Harapan banyak rakyat jelata kembali seperti sediakala,
Dan … seperti yang diduga, itulah langkah yang pertama.
He … he … he … Akhirnya Istana Memang Berani Juga.
‘Tidak’ tanggal, ‘Memang’ diukir sebagai penggantinya.
Dewa pengelana yang satu ini memang tidak kekar gaya,
Tapi seperti yang telah berulang kali dicontohkan oleh dia
Ukiran kata ‘tidak’ segera saja dihapusnya karena bagi dia
Sama sekali tak menjadi beban menghajar pantat pendusta.
He … he … he … ayo mana pantat para durjana, candanya,
Akan kugebuk mereka, akan kugiring ke balik jeruji penjara,
Apalagi kalau temanku yang dari Gerinda eh benar adanya
Tak lagi cocok dengan partai yang konon penuh rekayasa,
Pasti dia akan kuangkat menjadi menteri andalan negara
Yang tugas utamanya menggunakan sapu dari kawat baja
Menggebuk semua pantat serta otak para maling pendusta.
Sekarang tak perlu jauh-jauh belajar sampai ke Cina segala
Jika hanya mau memberantas para maling tikus dan kecoa.
Nih, ada satu asli Cina yang sudah lama jadi warganegara.
Semua orang bisa langsung belajar pada si suhu ternama
Yang tekadnya membuat banyak durjana gemetar terpana
Karena kesukaan hobinya setelah menjadi pejabat negara
Menggebuk pantat dan menghajar otak bengkok pendusta.
Tepat sehari setelah dia diangkat menjadi menteri negara,
Mulut dan tangannya pasti gatal jika tidak segera bekerja.
Hajar sini hajar sana dan penggarong maling uang negara,
Kalau bukannya terbirit-birit pastilah gemetar tak berdaya.
He … he … he … Bima lama yang agak besar badannya
Diganti si langsing teman si Cina tampan laksana Nakula,
Negara pun mempunyai harapan akan makmur sejahtera,
Karena para tikus kecoa penggarong dana rakyat jelata
Dihajar amblas sampai tertinggal hanya kentutnya saja.
Ha … ha … ha … ini baru penghuni istana milik negara,
Selamat bekerja untuk kalian semua … sehat sejahtera.
Dan catatan berapi-api penuh nyala harapan membara
Yang pernah diunggah ke seantero telatah dunia maya
Akhirnya perlu dan harus dikoreksi … karena nyatanya
Harus KPK yang turun tangan membekuk sang putera
Yang tak hanya satu kali disebut di sidang satu perkara
Tentang Hambalang … tentang skandal dunia olahraga.
Masih diingat dengan jelas dalam pusaran bias kencana
Kala kali pertama sang putra disebut mantan bendahara
Usulan dan harapan kala senja indah berbunga-bunga
Ditulis dengan ria sukacita, percaya bahwa sang Bima
Yang dalam cerita keluarga Bharata dikenal jujur setia,
Pasti berani jika cuma memenjarakan putra yang alpa,
Lalu berikutnya bersama-sama mahaksatria nusantara
Membabat habis semua durjana pencuri uang negara.
Tetapi entah mengapa, apakah harapan pelangi senja
Terlalu lirih suaranya ataukah terhalang lintasan rimba,
Yang jelas sampai ujung lintasan rona wibawa kuasa,
Perlahan memudar lalu berpindah ke tangan berikutnya
Maling uang negara tidak juga digebuk pantat otaknya.
Memang banyak yang terpaksa tidur di lantai penjara,
Tetapi yang belum ke sana masih berlaksa jumlahnya.
Duh Bima, duh Werkudara, mengapa sih kok terus saja
Kalau bukannya lamban serta ragu mengambil prakarsa,
Akhinya engkau ini ternyata memang tidak berani juga.
Yah, bukankah nanti akan termangu dan menyesal jiwa
Manakala kuasa sudah berada jauh di atas awan mega
Lalu kesadaran untuk berbuat lebih banyak bagi negara
Menyeruak masuk dan menagih janji pada hati dan jiwa?
Bukankah kau hanya bisa terdiam tidak berdaya, Bima?
Tanpa kuasa sebagai seorang presiden kepala negara,
Prakarsa mulia ini pasti semakin sulit dijadikan realita.
Kala kuasa sedang dalam haribaan saja, tak ada apa,
Apalagi setelah pensiun hidup mewah tapi tanpa kuasa,
Bukankah ibarat singa yang taringnya tanggal semua?
Jangankan untuk mengoyak mangsa, makan tahu saja
Engkau perlu usaha nan keras dan bahkan kerja ekstra.
Dan sadarkah kau apa yang lebih menjengkelkan sukma?
Aku harus kembali menggubah catatan kecil sederhana
Karena kata ‘tidak’ harus disisipkan tepat di jantung jiwa
Akhirnya Istana ‘Tidak’ Berani Juga, ini lho judul barunya.
Ya … memang harus seperti itu karena fakta serta realita
Sampai pudarnya rona pelangi biru di langit jingga senja
Engkau tidak pernah berani memproses sang putra alpa.
Lho, kan belum tentu nyanyian sang mantan bendahara
Benar adanya, bagaimana kalau itu hanya dusta belaka?
He … he … he … dengar baik-baik wahai ksatria mulia.
Di samping semua nyanyian telah terbukti benar adanya
Juga semakin banyak saksi lain yang serta dan ikut bicara,
Jadi sebenarnya tak perlu ada keraguan dalam ini perkara,
Apalagi bukankah kau sangat paham dan tahu wahai Bima
Bahwa rasanya benar-benar tidak masuk akal jikalau ketua,
Lalu bendahara, sibuk berpesta … eh sekjen sibuk bertapa,
Serta berpantang dan berpuasa tidak mau menerima dana
Yang konon memang digalang guna lancarkan rekayasa?
Ayo Bima … ayo ksatria, janganlah naïf apalagi berdusta.
Tetapi sekarang semuanya sudah terlanjur kedaluwarsa.
Waktumu sudah selesai, tiba giliran ksatria dari Sala sana,
Yang gemar gunakan sapu baru terbuat dari kawat baja.
Pelan tapi pasti sapu baja akan menyapu semua durjana,
Termasuk si putra alpa yang dengan enaknya menerima
Aliran dana yang sengaja dihimpun guna menimbun dosa.
Akhirnya Istana ‘Tidak’ Berani Juga, terukir di pintu dewa.
Bah … memang hanya saku tambahan ukiran sisipannya
Tetapi maknanya terjungkir balik laksana badai bencana.
Sayang sekali si empu pujangga harus tega mengukirnya
Walau dalam sukma tetap saja berdenyut harapan mulia,
Bahwa dewa pengelana yang melintas di bawah pilarnya
Dengan suka cita memetik sisipan kata agar bisa segera
Harapan banyak rakyat jelata kembali seperti sediakala,
Dan … seperti yang diduga, itulah langkah yang pertama.
He … he … he … Akhirnya Istana Memang Berani Juga.
‘Tidak’ tanggal, ‘Memang’ diukir sebagai penggantinya.
Dewa pengelana yang satu ini memang tidak kekar gaya,
Tapi seperti yang telah berulang kali dicontohkan oleh dia
Ukiran kata ‘tidak’ segera saja dihapusnya karena bagi dia
Sama sekali tak menjadi beban menghajar pantat pendusta.
He … he … he … ayo mana pantat para durjana, candanya,
Akan kugebuk mereka, akan kugiring ke balik jeruji penjara,
Apalagi kalau temanku yang dari Gerinda eh benar adanya
Tak lagi cocok dengan partai yang konon penuh rekayasa,
Pasti dia akan kuangkat menjadi menteri andalan negara
Yang tugas utamanya menggunakan sapu dari kawat baja
Menggebuk semua pantat serta otak para maling pendusta.
Sekarang tak perlu jauh-jauh belajar sampai ke Cina segala
Jika hanya mau memberantas para maling tikus dan kecoa.
Nih, ada satu asli Cina yang sudah lama jadi warganegara.
Semua orang bisa langsung belajar pada si suhu ternama
Yang tekadnya membuat banyak durjana gemetar terpana
Karena kesukaan hobinya setelah menjadi pejabat negara
Menggebuk pantat dan menghajar otak bengkok pendusta.
Tepat sehari setelah dia diangkat menjadi menteri negara,
Mulut dan tangannya pasti gatal jika tidak segera bekerja.
Hajar sini hajar sana dan penggarong maling uang negara,
Kalau bukannya terbirit-birit pastilah gemetar tak berdaya.
He … he … he … Bima lama yang agak besar badannya
Diganti si langsing teman si Cina tampan laksana Nakula,
Negara pun mempunyai harapan akan makmur sejahtera,
Karena para tikus kecoa penggarong dana rakyat jelata
Dihajar amblas sampai tertinggal hanya kentutnya saja.
Ha … ha … ha … ini baru penghuni istana milik negara,
Selamat bekerja untuk kalian semua … sehat sejahtera.
Sidoarjo, 11 Februari 2014
Diposting di group : 11 September 2014